OLEH : MUNAWIR KUNJAE
SORE itu Selasa, 7 Oktober 2025, pukul 16.00 Wita, saya bersama tante dan beberapa ponakan baru saja pulang setelah menghadiri acara wisuda sepupu.
Sebenarnya, acara wisuda selesai pukul 14.00 Wita, tetapi sepupu saya, Ade Ayu, meminta agar diantar ke tempat pemotretan.
Biasa, momen wisuda adalah momen sakral dan hanya terjadi sekali seumur hidup.
Dalam perjalanan pulang, usai sesi pemotretan, kami mampir lagi ke sebuah rumah makan untuk membeli keperluan makan.
Kami tidak ingin sampai di kosan dan baru mulai memasak, sementara semua sudah merasa lapar.
Setibanya di kosan, makanan itu langsung dihidangkan. Tante meminta saya memimpin doa sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT karena putrinya sudah diwisuda.
Setelah selesai makan, seperti kebanyakan orang, saya langsung menyalakan sebatang rokok.
Namun, Tiba-tiba, ponsel saya berdering. Ternyata Ical, anak dari rekan kepala desa saya, menelepon.
"Assalamualaikum... Posisi Pak Kades?" sapanya. "Waalaikumsalam... lya, ada apa, Cal?" tanyaku balik.
“Ibu (Ci Mery) memanggil makan di rumahnya, sementara buat onyop ini,” katanya.
"Ah, siap!" jawabku, mengakhiri percakapan.
Sebenarnya, saat itu saya bisa saja tidak pergi makan lagi. Namun, hati saya pasti akan berontak.
Bagaimana tidak, sejak kecil saya selalu mendapatkan asupan "zat besi" dari onyop.
Bisa dibilang, saya besar bersama onyop. Selain itu, rumah tempat makan onyop bukan orang biasa.
Ia adalah Maryam Tamoreka, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Fraksi Partai Golkar, sekaligus adik kandung Bupati Banggai Bapak Ir. Amir Tamoreka dan anggota DPR RI Komisi XII Bapak Ir. Beniyanto Tamoreka.
Sungguh luar biasa. Setelah menghabiskan sebatang rokok, saya segera bergegas menuju alamat yang dikirim Ical via WhatsApp.
Sebenarnya, saat mengendarai mobil saya dalam keadaan kenyang.
Dan jarak tempuh di maps saya lihat sekitar 12 kilometer dari kosan sepupu saya.
Memang jauh, tetapi karena masih dalam kota, jaraknya tidak begitu terasa. Berbeda jika itu di jalan antar kampung, pasti akan terasa sangat jauh.
Sesampainya di tempat tujuan, Ical sudah menunggu di depan rumah. Sementara itu, Ci Mery juga baru selesai jalan santai sore di sekitar rumahnya.
Saya dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu samping rumah beliau, tempat Ci Mery biasa menerima tamu atau konstituen dari daerah pemilihannya.
Tidak lama kemudian, Ical menyuguhkan kopi. Dia yang membuatkannya karena sudah tahu selera saya: pahit sedikit manis.
Sambil mempersilakan saya minum kopi dan mencicipi kue yang dihidangkan, Ci Mery bertanya kapan saya tiba di Palu.
Saya menjawab bahwa saya tiba di Palu pada hari Senin, 6 Oktober 2025.
Ternyata, kami tiba hampir bersamaan, saya dan keluarga berangkat setelah Ashar pada hari Minggu dari luwuk, sedangkan Ci Mery malamnya.
Setelah cukup lama berbincang dan saya menyerahkan proposal permohonan program ke desa, saya pun diajak makan onyop.
"Silakan makan, Pak Kades, terserah mau pilih kuah sup atau kuah santan, langsung makan nasi juga bole," katanya.
Kebetulan, asisten rumah tangganya membuat dua macam resep kuah agar ada pilihan.
Dari sini saya baru tau Ci mery, sangat rendah hati dan ramah terhadap warga.
Terbukti, pada saat itu, semua orang yang tinggal di rumahnya diajak makan satu meja. Dan, bagi saya itu adalah kali pertama.
Sebenarnya, orang yang "low profile", rendah hati atau yang dikenal dengan istilah tawadhu, seperti itu, sudah dikabarkan oleh Allah SWT, sudah sejak lama, misalnya seperti dalam Surah Al-Furqan ayat 63:
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan hati yang rendah dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam'.”
Wallahu a'lam bishawab. *
Penulis adalah Kepala Desa Sampaka Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai