Oleh: Munawir Kunjae
ASA Timnas Indonesia untuk melangkah ke Piala Dunia 2026 telah pupus. Kekalahan 0-1 dari Timnas Irak pada laga kualifikasi yang krusial menjadi penentu nasib.
Hasil ini terasa seperti tamparan keras bagi seluruh pencinta sepak bola di Tanah Air.
Andai saja saat itu Timnas mampu meraih kemenangan, mungkin masih ada secercah harapan.
Namun yang terjadi justru kekecewaan yang mendalam, bahkan terasa hingga ke pelosok-pelosok desa.
Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa prestasi Timnas masih jauh dari ekspektasi?
Proses naturalisasi yang dijalankan pemerintah belum sepenuhnya membuahkan hasil yang diharapkan.
Demikian pula dengan keputusan PSSI mengganti pelatih Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert yang juga belum mampu memberikan angin segar.
Perubahan ini belum bisa menjadi solusi instan untuk meningkatkan performa tim secara signifikan.
Kekalahan Timnas dari Irak bahkan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, termasuk di kampung-kampung.
Sutarjo Saluki, salah seorang warga yang juga mantan pemain sepak bola, ikut mengekspresikan kekecewaannya.
"Kalah lagi Timnas, Pak Kades, satu kosong, Irak yang menang!" ujarnya.
"Saya tidak menonton, capek baru pulang dari Palu," jawab saya saat itu.
"Coba menang 2 kosong, masih ada harapan, sekarang terpaksa pulang," lanjut Sutarjo dengan nada menyesal.
Di era 80-an, nama Sutarjo cukup dikenal di Kecamatan Bualemo sebagai pemain andalan Sampaka FC.
Naluri sepak bolanya masih terasa, meski usianya kini sudah senja.
Hal ini membuktikan betapa sepak bola begitu dekat dengan kehidupan masyarakat, dari dulu hingga sekarang.
Sepak bola memang memiliki kekuatan besar untuk membangkitkan nasionalisme.
Setiap kali Timnas bertanding, gairahnya terasa di mana-mana, dari kota hingga ke kampung.
Olahraga ini mampu menjadi simbol kebangsaan yang menyatukan berbagai latar belakang suku, agama, dan ras di bawah satu bendera merah putih.
Meskipun harapan telah padam, kita tidak bisa patah semangat.
Kegagalan ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan pembinaan olahraga di semua tingkatan, bahkan sampai ke level kampung.
Kita bisa belajar banyak dari Jepang, sebuah negara yang berhasil merevolusi sepak bola dalam 25 tahun terakhir.
Kunci keberhasilan mereka adalah menghubungkan pendidikan dan olahraga sebagai komponen utama pengembangan pemain.
Semoga Indonesia bisa mengambil pelajaran berharga dan mengikuti jejak tersebut. Wallahu a'lam bishawab. *
Penulis adalah Kepala Desa Sampaka Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai