KAMIS 9 Oktober 2025, saya bersama tante dan beberapa ponakan berangkat dari Palu menuju Luwuk, Kabupaten Banggai.
Seharusnya, kami berangkat satu hari sebelumnya. Namun, karena beberapa ruas jalan Palu-Luwuk rusak parah akibat curah hujan yang tinggi, keberangkatan pun kami tunda.
Agenda kami sekeluarga di Palu sendiri adalah menghadiri wisuda sepupu.
Jarak Palu-Luwuk kurang lebih 600 kilometer.
Dengan jarak sejauh itu, sebaiknya pengendara roda empat memiliki sopir cadangan agar tidak kelelahan selama perjalanan.
Bagi para sopir rental, hal ini tentu sudah biasa.
Bahkan, agar bisa sampai di Kota Luwuk lebih tepat waktu, mereka sudah menentukan tempat-tempat istirahat.
Misalnya, Palu-Toboli, Toboli-Padapu, Padapu-Pagimana, dan Pagimana-Luwuk.
Ada juga yang menempuh rute Palu-Padapu, lalu langsung ke Luwuk, tergantung stamina sopir.
Jika pun ada yang singgah di tempat lain selain titik-titik istirahat tadi, biasanya sang sopir hanya mengisi bahan bakar, membeli rokok, air mineral, atau berhenti jika ada penumpang yang mual.
Menarik, tetapi bukan itu intinya.
Dalam perjalanan, tepatnya di Desa Tuntung, Kecamatan Bunta, saya berhenti sejenak untuk membuka jaket yang saya kenakan.
Saya sudah merasa gerah karena saat memasuki wilayah Bunta, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 Wita.
Sebenarnya mobil yang saya kendarai dilengkapi AC, tetapi saya tidak menyalakannya untuk menghemat bahan bakar.
Ketika saya sedang membuka jaket, tante saya menoleh ke sebuah rumah mungil di samping kami.
Di sana, ternyata ada seorang ibu yang menjual nasi kuning.
Tante langsung bertanya kepada ponakan-ponakan yang ada di dalam mobil, "kalian mau makan nasi kuning?" Semua menjawab "iya", dan saya pun mengiyakan.
Saya lupa menanyakan nama si penjual, tetapi ia sempat menyebutkan bahwa ia baru tinggal di Desa Tuntung sekitar enam tahun, asalnya dari Provinsi Gorontalo.
Nasi kuningnya enak, dan kami semua melahapnya dengan lahap.
Nasi kuningnya juga memiliki pilihan lauk, bisa ayam, bisa ikan, lengkap dengan telur, sayur, dan kerupuk.
Karena kami berjumlah enam orang, kami memesan enam porsi. Setelah makan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan kami memang agak terburu-buru, karena salah satu dari kami yang bernama Jul sudah ditelepon oleh kepala bidangnya agar segera ke kantor setibanya di Luwuk, mungkin ada hal penting yang harus segera dikerjakan.
Di dalam perjalanan, tante saya langsung berkata, "kalau sudah rezekinya, pasti tidak akan tertukar."
Yang tante maksud adalah si ibu penjual nasi kuning yang enak tadi.
Bagaimana tidak, kami tidak ada rencana singgah untuk sarapan di warung mungil itu, rencananya baru akan singgah untuk sarapan sekaligus beristirahat di Pagimana.
Tetapi tiba-tiba saya menghentikan mobil, dengan alasan membuka jaket, lalu makan di warungnya.
Lalu, tante menyampaikan pesan lagi kepada kami ponakan-ponakannya, "hidup ini harus punya ikhtiar, bekerja, selebihnya baru serahkan kepada Yang Kuasa."
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Inna robbaka yabsuthur-rizqo limay yasyaaa-u wa yaqdir, innahuu kaana bi'ibaadihii khobiirom bashiiroo
“Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra' 17 : Ayat 30)
Wallahu a'lam bishawab. *
Penulis : Kepala Desa Sampaka Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai